Tema: Cita-citaku
Sederhana tapi Luar Biasa
Aku sebenarnya gak sebegitu tahu harus menceritakannya darimana. Perlukah seperti
cerita dongeng yang memulai ceritanya dengan kata-kata “Pada zaman dahulu....”
atau harus kumulai dengan basa-basi yang tak perlu agar pembaca makin sebal
karena mereka tak tahu awal cerita dari ini itu yang bagaimana.
Sebelum ku teruskan ke inti cerita,
aku ingin memperkenalkan diri. Namaku “diamond” alias Intan Eben Tantri, aku
biasa dipanggil Eben walaupun mama
dan papa saya sudah bilang kalau nama panggilan saya adalah Intan. 16 tahun
yang lalu aku lahir di rumah sakit Adhiguna Surabaya, hari Jumat Legi tanggal
11 April pukul 12 tepat ketika papa saya akan berangkat ke masjid untuk
melaksanakan sholat Jumat. Kini aku duduk di kelas dimana nanti akan menghadapi
UNAS yaitu kelas XII. Aku memilih sekolah kejuruan yaitu Kimia Analis walupun
itu bukan keahlianku. Dan aku menghabiskan keseharianku di rumah pertamaku
yaitu SMKN 5 Surabaya, dan sisanya untuk numpang
makan, tidur, mandi, dan mengerjakan tugas yaitu rumah orang tuaku di Ploso.
Baik, aku akan memulai cerita ini ketika aku masih berusia 3 tahun. Usia dimana
mimik muka, tingkah laku, maupun pemikiran masih polos. Kenapa? Karena diusia
inilah aku termasuk kalian melakukan sesuatunya dengan sesuka hati, dan gak berfikir bakal dapet resiko apa kalau melakukan hal tersebut. Seperti apa yang aku
maksud, diusia inilah kita, ketika ditanya para orang tua “anak manis mau jadi
apa?” tanpa pemikiran yang belibet kita
pasti menjawab dengan enteng kalau cita-cita kita itu profesi yang biasa kita
lihat. Contoh profesi yang sering dijadikan jawaban adalah “dokter”. Kalau
ditanya kenapa kok mau jadi dokter, kita jawabnya mah paling sambil cengengas
cengenges gak jelas karena bingung ngomongnya kudu gimana.
Beda lagi kalau kita ditanyanya
waktu usia kita udah menginjak remaja. Sebelum ditanya tentang cita-cita aja
kita udah mikir sampai tenaga hampir
terkuras habis. Kalau ditanya alasannya apa, jawabannya karena kita pasti
memperhitungkan betul cita-cita yang cocok untuk kita, sesuai dengan kompetensi
ataupun minat dan bakat. Nah, setelah udah dapet jawaban yang cocok, kita gak perlu bingung lagi ketika ditanya
“apa cita-cita kamu?” ataupun alasannya, langsung samber aja gak perlu ragu. Kecuali bagi kalian para
remaja yang masih labil entah dari
perilaku ataupun pemikiran, pasti kalau ditanyanya cita-cita hari ini sama
cita-cita 2 bulan lagi nanti udah
beda jawabannya.
Sebenarnya juga sama sih kayak aku, pemikirannya masih labil. Tapi kalau labilku itu labil karena
disuruh nyari profesinya. Terlalu
banyak profesi yang ada, itu juga sesuai minat dan bakatku, tapi itu bukan
cita-citaku. Karena cita-citaku sebenarnya sederhana
tapi maknanya luar biasa. Kenapa aku
bilang ini luar biasa? Karena mewujudkan ini perlu dalam waktu panjang tapi
bisa dicicil dari sekarang dan
sifatnya universal (untuk semua). Beda dengan cita-citanya dalam bentuk
profesi, ketika kita sudah berhasil mencapainya, berarti cita-cita kita sudah
cukup berhenti sampai situ. Kalau mau dilanjutkan supaya lebih sukses bisa,
tapi tetap dengan profesi yang sama, itupun kalau Tuhan menghendaki.
Disinilah perbedaanku dengan yang
lain, ketika aku ditanya tentang cita-cita sudah pasti aku akan menjawab kalau
cita-citaku adalah membuat orang-orang
yang aku sayangi tersenyum. Kenapa? Senyum itu mudah dilakukan tapi
maknanya besar, ketika aku bisa melihat mereka tertawa atau tersenyum itu sudah
seperti satu misi yang kalau di Game itu
mission complete. Apalagi aku bisa melakukannya setiap hari dan yang
tersenyum itu adalah orang tuaku, mungkin tidak hanya puaas tapi aku terlalu
puuuaaaasssss namun aku tetap harus menjaga senyum yang terlukis di wajah
beliau agar tidak hilang karena aku melakukan sesuatu yang membuat mereka
kecewa. Tidak perlu dalam bentuk profesi kan?
Hanya perlu sedikit gerakan atau tindakan bermanfaat untuk mereka, senyum sudah
bisa mereka lukis di wajah mereka.
Sempat ada orang yang bertanya lalu
akhirnya ia sebal denganku karena jawaban yang ku lontarkan tak seperti apa
yang dia inginkan.
“ aku iku takok cita-citamu, kok jawabmu sok sokan pengkol!”
“terus kudu jawab opo aku? Pekerjaane? Ancen
iku cita-citaku kok awakmu sing bingung” ujarku.
Percakapan
singkat yang akhirnya tak perlu dibahas karena akhirnya kami sama-sama mengerti
kalau apa yang kita perdebatkan pasti tak ada ujungnya.
Namun,
jangan dikira jika ada orang yang punya cita-cita seperti ini realisasinya
sangat mudah karena hanya dengan cara mebuat lelucon setiap hari agar setiap
dari apa yang kita maksud bisa membuat mulut mereka menganga dengan kata-kata “hahahahaha”nya. Mungkin bisa dibilang
seperti itu, tapi itu bukan senyum yang aku maksud. Senyum yang aku maksud
adalah senyum bangga karena mereka memiliki aku, karena mereka bangga
menyayangi aku, dan karena mereka bisa percaya kalau aku akan mampu menjaga
senyum mereka dengan sedikit aksi manfaat yang kulakukan. Jadi, bisa dibilang
kalau aku ini bermanfaat untuk
mereka.
Nah,
susahnya kalau cita-cita seperti ini, ketika apa yang kita lakukan punya tujuan
agar mereka bangga melihat aksi kita yang “WOWU” menjadi aksi yang sama sekali
gak di toleh atau kasarannya gak direken.
Disinilah para motivator yahud
dibutuhkan. Jangan kira karena kata-kata cita-cita yang TOP ini, kita bisa
memotivasi diri sendiri. Karena aku juga makhluk sosial, peran sahabat sebagai
penghibur sangat aku butuhkan. Dan sama seperti cita-cita dalam bentuk profesi,
cita-cita ini bisa gagal karena aksi yang kurang perhitugan.
Aksi
yang aku maksud ini aksi yang cukup sederhana tapi ada beberapa yang
membutuhkan waktu lama. Yang paling mudah dilakukan adalah aksi saat aku bisa
menjadi tempat curhatan (berbagi
masalah) bagi mereka yang membutuhkan aku, dan aku bisa memberi motivasi untuk
mereka supaya solusi dari masalah mereka bisa mereka cari sendiri. Intinya,
menjadi motivator mereka, lalu apa yang aku berikan yaitu sebuah motivasi
akhirnya bisa bermanfaat untuk mereka, karena mereka bisa bangkit dari maslah
yang mereka galaukan. Yang setengah
sulit adalah mencetak prestasi dari bakat yang sesuai dengan kita. Kenapa aku
mengatakan ini setengah sulit? Karena proses yang ini membutuhkan waktu cukup
lama, usaha yang lumayan, gagal atau suksesnya kita gak tahu karena yang tahu cuman
Tuhan, tergantung dengan usaha kita. Nah, aksi yang susah ini adalah membuat
orang tuaku tersenyum karena apa yang beliau mau, beliau inginkan bisa aku
wujudkan. Susahnya ini adalah ketika kita berhasil tapi bukan seperti apa yang
beliau inginkan. Walaupun berhasil, tapi beliau tetap kecewa karena disisa mata
beliau dapat melihat pertumbuhan kita, yang beliau lihat malah kita tumbuh
berhasil dengan hal lain. Tapi, biasanya ini tidak berlaku bagi orang tua yang legowo dan apa kata yang menjalankan
(pasrah).
Dari
sini juga, peran orang tua saya sangat urgent
karena beliau-beliau harus legowo mendukung aksi-aksi saya walupun sering
mereka berkata
“sakjane
iki gak geleme papa mama nduk, tapi nek iki seng isok gowo awakmu berhasil
terus isok garai mama papa seneng... wes papa mama terserah ae nduk.. opo jare
seng Gusti Alloh”
Miris
memang mendengar beliau-beliau berkata saperti itu tapi life must go on. Jika
sudah seperti itu, Orang tua saya sudah percaya bahwa apa yang saya pilih kelak
adalah pilihan akurat yang bisa merealisasikan cita-cita saya, membuat orang
tua bangga dan menangkis ide beliau bahwa pilihan
orang tua adalah pilihan yaang terbaik karena Ridho Tuhan dari orang tua. Ide
saya, pilihan saya juga bukan pilihan buruk. Intinya bagaimana saya
memperhitungkan secara matang-matang, apapun itu profesinya, apapun yang saya
lakukan tujuan saya hanya satu yaitu membuat mereka yang menyanyangiku tersenyum karena
aku. SEMUA TERGANTUNG SAYA, SAYA
YANG MENJALANKAN NAMUN JANGAN LUPA KUASA TUHAN DIATAS SEGALANYA.

lumayan lumayan :D
BalasHapustapi kata seorang motivator, "orang yang bilang cita2nya ingin sukses dan bisa mengharumkan agama nusa dan bangsa. itu adalah orang2 yang bingung (sejenis sm kalimatmu tadi dek)."
kata motivator itu, harus lebih spesifik lagi, biar targer kita jadi makin jelas! :D
semangat menggapai cita-citamu dek :))))