pemirsa Blog :D

Rabu, 12 Februari 2014

Sederhana Tapi Luar Biasa

Tema: Cita-citaku
Sederhana tapi Luar Biasa
            Aku sebenarnya gak sebegitu tahu harus menceritakannya darimana. Perlukah seperti cerita dongeng yang memulai ceritanya dengan kata-kata “Pada zaman dahulu....” atau harus kumulai dengan basa-basi yang tak perlu agar pembaca makin sebal karena mereka tak tahu awal cerita dari ini itu yang bagaimana.
            Sebelum ku teruskan ke inti cerita, aku ingin memperkenalkan diri. Namaku “diamond” alias Intan Eben Tantri, aku biasa dipanggil Eben walaupun mama dan papa saya sudah bilang kalau nama panggilan saya adalah Intan. 16 tahun yang lalu aku lahir di rumah sakit Adhiguna Surabaya, hari Jumat Legi tanggal 11 April pukul 12 tepat ketika papa saya akan berangkat ke masjid untuk melaksanakan sholat Jumat. Kini aku duduk di kelas dimana nanti akan menghadapi UNAS yaitu kelas XII. Aku memilih sekolah kejuruan yaitu Kimia Analis walupun itu bukan keahlianku. Dan aku menghabiskan keseharianku di rumah pertamaku yaitu SMKN 5 Surabaya, dan sisanya untuk numpang makan, tidur, mandi, dan mengerjakan tugas yaitu rumah orang tuaku di Ploso.
            Baik, aku akan memulai cerita ini  ketika aku masih berusia 3 tahun. Usia dimana mimik muka, tingkah laku, maupun pemikiran masih polos. Kenapa? Karena diusia inilah aku termasuk kalian melakukan sesuatunya dengan sesuka hati, dan gak berfikir bakal dapet resiko apa kalau melakukan hal tersebut. Seperti apa yang aku maksud, diusia inilah kita, ketika ditanya para orang tua “anak manis mau jadi apa?” tanpa pemikiran yang belibet kita pasti menjawab dengan enteng kalau cita-cita kita itu profesi yang biasa kita lihat. Contoh profesi yang sering dijadikan jawaban adalah “dokter”. Kalau ditanya kenapa kok mau jadi dokter, kita jawabnya mah paling sambil cengengas cengenges gak jelas karena bingung ngomongnya kudu gimana.
            Beda lagi kalau kita ditanyanya waktu usia kita udah menginjak remaja. Sebelum ditanya tentang cita-cita aja kita udah mikir sampai tenaga hampir terkuras habis. Kalau ditanya alasannya apa, jawabannya karena kita pasti memperhitungkan betul cita-cita yang cocok untuk kita, sesuai dengan kompetensi ataupun minat dan bakat. Nah, setelah udah dapet jawaban yang cocok, kita gak perlu bingung lagi ketika ditanya “apa cita-cita kamu?” ataupun alasannya, langsung samber aja gak perlu ragu. Kecuali bagi kalian para remaja yang masih labil entah dari perilaku ataupun pemikiran, pasti kalau ditanyanya cita-cita hari ini sama cita-cita 2 bulan lagi nanti udah beda jawabannya.
            Sebenarnya juga sama sih kayak aku, pemikirannya masih labil. Tapi kalau labilku itu labil karena disuruh nyari profesinya. Terlalu banyak profesi yang ada, itu juga sesuai minat dan bakatku, tapi itu bukan cita-citaku. Karena cita-citaku sebenarnya sederhana tapi maknanya luar biasa. Kenapa aku bilang ini luar biasa? Karena mewujudkan ini perlu dalam waktu panjang tapi bisa dicicil dari sekarang dan sifatnya universal (untuk semua). Beda dengan cita-citanya dalam bentuk profesi, ketika kita sudah berhasil mencapainya, berarti cita-cita kita sudah cukup berhenti sampai situ. Kalau mau dilanjutkan supaya lebih sukses bisa, tapi tetap dengan profesi yang sama, itupun kalau Tuhan menghendaki.
            Disinilah perbedaanku dengan yang lain, ketika aku ditanya tentang cita-cita sudah pasti aku akan menjawab kalau cita-citaku adalah membuat orang-orang yang aku sayangi tersenyum. Kenapa? Senyum itu mudah dilakukan tapi maknanya besar, ketika aku bisa melihat mereka tertawa atau tersenyum itu sudah seperti satu misi yang kalau di Game itu mission complete. Apalagi aku bisa melakukannya setiap hari dan yang tersenyum itu adalah orang tuaku, mungkin tidak hanya puaas tapi aku terlalu puuuaaaasssss namun aku tetap harus menjaga senyum yang terlukis di wajah beliau agar tidak hilang karena aku melakukan sesuatu yang membuat mereka kecewa. Tidak perlu dalam bentuk profesi kan? Hanya perlu sedikit gerakan atau tindakan bermanfaat untuk mereka, senyum sudah bisa mereka lukis di wajah mereka.
            Sempat ada orang yang bertanya lalu akhirnya ia sebal denganku karena jawaban yang ku lontarkan tak seperti apa yang dia inginkan.
            aku iku takok cita-citamu, kok jawabmu sok sokan pengkol!”
terus kudu jawab opo aku? Pekerjaane? Ancen iku cita-citaku kok awakmu sing bingung” ujarku.
Percakapan singkat yang akhirnya tak perlu dibahas karena akhirnya kami sama-sama mengerti kalau apa yang kita perdebatkan pasti tak ada ujungnya.
Namun, jangan dikira jika ada orang yang punya cita-cita seperti ini realisasinya sangat mudah karena hanya dengan cara mebuat lelucon setiap hari agar setiap dari apa yang kita maksud bisa membuat mulut mereka menganga dengan kata-kata “hahahahaha”nya. Mungkin bisa dibilang seperti itu, tapi itu bukan senyum yang aku maksud. Senyum yang aku maksud adalah senyum bangga karena mereka memiliki aku, karena mereka bangga menyayangi aku, dan karena mereka bisa percaya kalau aku akan mampu menjaga senyum mereka dengan sedikit aksi manfaat yang kulakukan. Jadi, bisa dibilang kalau aku ini bermanfaat untuk mereka.
Nah, susahnya kalau cita-cita seperti ini, ketika apa yang kita lakukan punya tujuan agar mereka bangga melihat aksi kita yang “WOWU” menjadi aksi yang sama sekali gak di toleh atau kasarannya gak direken. Disinilah para motivator yahud dibutuhkan. Jangan kira karena kata-kata cita-cita yang TOP ini, kita bisa memotivasi diri sendiri. Karena aku juga makhluk sosial, peran sahabat sebagai penghibur sangat aku butuhkan. Dan sama seperti cita-cita dalam bentuk profesi, cita-cita ini bisa gagal karena aksi yang kurang perhitugan.
Aksi yang aku maksud ini aksi yang cukup sederhana tapi ada beberapa yang membutuhkan waktu lama. Yang paling mudah dilakukan adalah aksi saat aku bisa menjadi tempat curhatan (berbagi masalah) bagi mereka yang membutuhkan aku, dan aku bisa memberi motivasi untuk mereka supaya solusi dari masalah mereka bisa mereka cari sendiri. Intinya, menjadi motivator mereka, lalu apa yang aku berikan yaitu sebuah motivasi akhirnya bisa bermanfaat untuk mereka, karena mereka bisa bangkit dari maslah yang mereka galaukan. Yang setengah sulit adalah mencetak prestasi dari bakat yang sesuai dengan kita. Kenapa aku mengatakan ini setengah sulit? Karena proses yang ini membutuhkan waktu cukup lama, usaha yang lumayan, gagal atau suksesnya kita gak tahu karena yang tahu cuman Tuhan, tergantung dengan usaha kita. Nah, aksi yang susah ini adalah membuat orang tuaku tersenyum karena apa yang beliau mau, beliau inginkan bisa aku wujudkan. Susahnya ini adalah ketika kita berhasil tapi bukan seperti apa yang beliau inginkan. Walaupun berhasil, tapi beliau tetap kecewa karena disisa mata beliau dapat melihat pertumbuhan kita, yang beliau lihat malah kita tumbuh berhasil dengan hal lain. Tapi, biasanya ini tidak berlaku bagi orang tua yang legowo dan apa kata yang menjalankan (pasrah).
Dari sini juga, peran orang tua saya sangat urgent karena beliau-beliau harus legowo mendukung aksi-aksi saya walupun sering mereka  berkata
 sakjane iki gak geleme papa mama nduk, tapi nek iki seng isok gowo awakmu berhasil terus isok garai mama papa seneng... wes papa mama terserah ae nduk.. opo jare seng Gusti Alloh”
Miris memang mendengar beliau-beliau berkata saperti itu tapi life must go on. Jika sudah seperti itu, Orang tua saya sudah percaya bahwa apa yang saya pilih kelak adalah pilihan akurat yang bisa merealisasikan cita-cita saya, membuat orang tua bangga dan menangkis ide beliau bahwa pilihan orang tua adalah pilihan yaang terbaik karena Ridho Tuhan dari orang tua. Ide saya, pilihan saya juga bukan pilihan buruk. Intinya bagaimana saya memperhitungkan secara matang-matang, apapun itu profesinya, apapun yang saya lakukan tujuan saya hanya satu yaitu membuat  mereka yang menyanyangiku tersenyum karena aku. SEMUA TERGANTUNG SAYA, SAYA  YANG MENJALANKAN NAMUN JANGAN LUPA KUASA TUHAN DIATAS SEGALANYA.

1 komentar:

  1. lumayan lumayan :D
    tapi kata seorang motivator, "orang yang bilang cita2nya ingin sukses dan bisa mengharumkan agama nusa dan bangsa. itu adalah orang2 yang bingung (sejenis sm kalimatmu tadi dek)."
    kata motivator itu, harus lebih spesifik lagi, biar targer kita jadi makin jelas! :D
    semangat menggapai cita-citamu dek :))))

    BalasHapus